Pemerintah Iran telah memilih Bitcoin (BTC) sebagai salah satu metode pembayaran untuk bea minyak yang digunakan oleh kapal-kapal minyak yang melintasi Selat Hormuz. Hal ini menyoroti peran Bitcoin sebagai aset strategis yang netral, menurut Sam Lyman, kepala penelitian di organisasi advokasi aset digital Bitcoin Policy Institute (BPI). Pemerintah Iran memilih Bitcoin karena sifatnya yang tahan penyensoran, yang memungkinkan transaksi dilakukan tanpa gangguan dari pihak lain.


Lyman mengatakan bahwa pemerintah Iran menerima pembayaran bea minyak dalam bentuk yuan Tiongkok, stablecoin yang dipatok dengan dolar AS, dan Bitcoin. Namun, belum ada bukti onchain yang menunjukkan bahwa pembayaran bea minyak telah dilakukan menggunakan Bitcoin. Sebagian besar transaksi crypto di Iran dilakukan menggunakan stablecoin yang dipatok dengan dolar AS, seperti USDT (USDt), yang diterbitkan oleh perusahaan Tether.


Pengumuman dari pemerintah Iran ini menyoroti pentingnya bagi para pembuat kebijakan di AS untuk mengakui dan memperlakukan Bitcoin sebagai aset strategis, bukan mengambil sikap regulasi yang bermusuhan atau mengabaikan aset digital secara keseluruhan. Lyman mengatakan bahwa Iran telah memiliki strategi aset digital sejak 2018, dan sebagian besar transaksi yang terjadi di sana menggunakan USDT.


Pemerintah Iran menggunakan stablecoin, meskipun penerbit stablecoin dapat membekukan dompet, menurut Lyman. "Saya pikir mereka sedang mengambil risiko," katanya. Pemerintah Iran telah berhasil memindahkan sekitar $3 miliar dalam cryptocurrency sejak 2022, dengan sebagian besar nilai tersebut dalam bentuk stablecoin.


Namun, Departemen Perbendaharaan AS hanya dapat membekukan sekitar $600 juta aset, menurut Lyman. "Mereka dapat memindahkan $3 miliar, dan hanya $600 juta yang dibekukan. Mereka masih dapat memindahkan sekitar $2,4 miliar. Jadi, saya pikir itu sebabnya stablecoin masih menjadi pilihan bagi rezim," katanya.


Penggunaan Bitcoin sebagai metode pembayaran untuk bea minyak oleh pemerintah Iran menyoroti peran aset digital dalam memfasilitasi transaksi internasional. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah Iran telah mempertimbangkan sifat tahan penyensoran dari Bitcoin dalam memilih metode pembayaran. Dengan demikian, pengumuman ini dapat memicu diskusi lebih lanjut tentang peran aset digital dalam hubungan internasional dan keamanan ekonomi.


Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan akibat sanksi internasional. Penggunaan aset digital seperti Bitcoin dan stablecoin dapat membantu Iran menghindari beberapa sanksi ini dan mempertahankan akses ke sistem keuangan global. Namun, penggunaan aset digital juga dapat menimbulkan risiko keamanan dan keuangan, terutama jika tidak diatur dengan baik.


Dalam konteks ini, pengumuman pemerintah Iran tentang penggunaan Bitcoin sebagai metode pembayaran untuk bea minyak dapat dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi ekonomi negara. Namun, langkah ini juga dapat menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap keamanan ekonomi dan keuangan global. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam tentang penggunaan aset digital dalam konteks hubungan internasional dan keamanan ekonomi.



Sumber: Klik Disini